-
but to share my learning process from the simple truth offered by
Rhenald Kasali. Look at one of his outstanding paragraphs "Manusia itu
belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi
masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan kebih
produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu
pandai saja kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekedar mampu
mendengar, tapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan
mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif." Here is the link to his complete article: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/03/054500426/Mooryati.Soedibyo.Dian.Sastro.dan.Metakognisi.Susi.Pudjiastuti?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Saya bermimpi menjadi bagian dari (1) komunitas yang tidak pernah malu, tetapi rendah hati, bahkan antusias untuk terus belajar; (2) komunitas yang berani dan tidak segan mengambil risiko karena apa yang dipelajarinya (EP)
Sunday, 2 November 2014
MOORYATI SOEDIBYO, DIAN SASTRO DAN METAKOGNISI SUSI PUDJIASTUTI BY RHENALD KASALI
Tuesday, 19 August 2014
ORA ET LABORA ALA SALOMO (1 RAJ. 3.5-9)
“TUHAN,
berikanlah kiranya kepadaku kebijaksanaan yang kuperlukan untuk memerintah
umat-Mu ini dengan adil dan untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang
jahat. Kalau tidak demikian, mana mungkin aku dapat memerintah umat-Mu yang
besar ini?" (1 Raj. 3.9)
Beberapa
hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak dari kehidupan
raja Salomo. Kebanyakan orang mengenal Salomo sebagai raja yang besar dan tiada
tandingannya. Hartanya banyak, hikmatnya luar biasa, raja-raja di sekitarnya
hormat kepadanya dan istrinya banyak pula. Supaya adil, orang juga memahami
bahwa pada masa akhir pemerintahannya Salomo telah jatuh ke dalam penyembahan
berhala karena istri-istrinya yang berasal dari berbagai ragam kepercayaan.
Sedikit
orang memperhatikan siapa Salomo sebelum menjadi raja. Dan sedikit orang
memperhatikan mimpi Salomo yang direkam di dalam kitab Raja-Raja yang pertama
(3.5-9). Ketika Salomo ditunjuk untuk menggantikan Daud menjadi raja terpilih (King Elect), (1) ia masih muda dan tidak
berpengalaman (1 Raj 3.7); (2) tugasnya begitu berat, yaitu memimpin bangsa
besar pilihan Tuhan (ay. 8); (3) ia dilahirkan bukan dari istri pertama
(permaisuri) raja Daud; (4) hubungan ibu dan ayahnya dimulai dari sebuah
skandal yang kejam dan "paling" memalukan sepanjang sejarah monarki
Israel; (4); ia bukan putra mahkota yang sewajarnya – ia bukan orang nomor satu
di dalam urutan garis suksesi kepemimpinan di dalam kerajaan Israel (almarhum
Absalom yang tampan dan Adonia adalah kakak-kakaknya yang berambisi untuk
menjadi raja); (5) dan beban yang paling berat yang harus ditanggung oleh
Salomo adalah hidup di bawah bayang-bayang kebesaran ayahnya Daud (1 Raj 9.4).
Salomo dituntut untuk hidup sesuai dengan kualitas hidup Daud. Situasi yang
demikian tentunya melahirkan tekanan hebat bagi Salomo muda. Kita hanya
mengenal kebesaran Salomo, tanpa peduli dengan (potensi) depresi yang
dihadapinya.
Percakapan
Salomo dengan Tuhan di dalam 1 Raj 3.5-9 adalah sebuah pelajaran yang sangat
menarik. Dalam mimpinya atau dalam doanya, Tuhan menawarkan kepada Salomo untuk
meminta sesuatu dari Tuhan. Tidak banyak orang mendapatkan kesempatan emas
seperti Salomo. Ia di atas angin: bayangkan Tuhan semesta alam menawarkan
kepada Salomo supaya ia meminta apa yang diinginkannya (ay. 5). Mari sejenak
kita membayangkan jika diri kita adalah raja Salomo. Apa yang kira-kira kita
akan minta dari Tuhan? Negara yang aman? Kesejahteraan dan kemakmuran
masyarakat Israel? Perdamaian di antara suku-suku di Israel? Perluasan wilayah
kerajaan? Kemenangan dalam perang? Atau jika ia seorang yang mementingkan diri
sendiri, barangkali doanya adalah untuk kekayaan, kesehatan, kekuasaan dan umur
panjang. Doa-doa semacam ini tidaklah salah. Namanya juga doa untuk keinginan.
Di hadapan Tuhan keinginan tidak selalu jahat. Banyak keinginan yang mulia
juga. Namun demikian tidak satupun dari pilihan-pilihan di atas yang diminta
Salomo.
Saya
pribadi terheran-heran ketika merenungkan ketiga ayat ini (1 Raj. 3.7-9).
Salomo tidak berdoa atau meminta untuk sebuah keinginan. Salomo berdoa dan
meminta untuk sebuah kebutuhan yang ia perlukan untuk mencapai keinginannya.
Perbedaan yang besar bukan? Yang diminta bukan keinginan (hasil akhir), namun
kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai keinginan tersebut (proses). Untuk
memudahkan, perhatikan ilustrasi di bawah ini. Seorang ayah berdoa supaya
anaknya dapat menjadi pengusaha yang sukses. Ini adalah doa untuk sebuah
keinginan yang baik dan mulia. Namun ada ayah lain yang berdoa supaya ia
diberikan kesempatan untuk bekerja, supaya memperoleh uang untuk bisa
menyekolahkan anaknya di dalam mempersiapkannya menjadi pengusaha yang sukses.
Ini adalah doa untuk sebuah kebutuhan yang diperlukan di dalam mencapai
keinginan yang mulia.
Contoh
lain di dalam konteks gereja: banyak umat Kristen yang berdoa supaya jemaat
bertambah, kursi kosong terisi, banyak petobat baru dan doa-doa sejenisnya.
Semua doa itu adalah baik dan mulia adanya. Namun barangkali kita harus
memikirkan doa yang lain: “Tuhan berikan aku keberanian, kekuatan dan kerelaan
untuk menjangkau orang-orang yang belum mengenal-Mu, serta membimbingnya untuk
memiliki komitmen terhadap gereja lokal!” Doa semacam ini adalah bukan meminta
untuk sebuah keinginan, tetapi kebutuhan untuk menggapai keinginan. Inilah doa
Salomo.
Keinginan
Salomo – layaknya pemimpin bangsa pada umumnya – adalah supaya kerajaan Israel
yang besar itu sejahtera, maju, aman dan jaya. Semua itu bisa tercapai jika ia
diberi kemampuan untuk memimpin bangsa yang tegar tengkuk ini dengan kearifan
dan keadilan – dengan hati yang bijaksana. Ia sadar, ia masih muda. Ia sadar ia
tidak berpengalaman. Ia sadar, beban hidup dan kepemimpinan yang ditanggungnya
adalah berat. Ia tahu apa yang dibutuhkannya: itulah yang dimintanya. Doa
semacam ini adalah doa yang jujur, tidak basa-basi, mendarat dan exactly right on the spot of the issues.
Doa
Salomo adalah doa yang jujur untuk sebuah kebutuhan yang riil dan mendesak. Doa
Salomo bukanlah doa yang malas – di sinilah prinsip Ora et Labora (St. Benedict) diterapkan. Salomo tidak berdoa untuk
sebuah jalan pintas atau sebuah hasil yang instant. Doa Salomo adalah
doa misionari karena ia mengijinkan dirinya untuk menjadi jawaban doa itu
sendiri. Salomo tidak mengutus orang lain – ia mengutus dirinya sendiri untuk nyemplung dalam kesulitan politik
bangsanya namun disertai dengan permohonan akan kebijaksanaan ilahi.
Sepanjang
sejarah Alkitab dan dunia, terlepas dari inisiatif pribadi dan mujizat-Nya,
Tuhan selalu bekerja sama dengan manusia. Kiranya renungan kecil ini boleh
membawa perubahan paradigma berdoa yang selama ini kita naikan. Memang tidak
ada peraturan baku di dalam doa. Doa itu relasi dengan Tuhan yang berbeda
naturnya dari satu individu kepada individu lainnya. Namun demikian Salomo
secara mendadak sontak telah menjadi guru doa bagi saya dan hopefully juga bagi segenap pembaca.
Sunday, 17 August 2014
TERJATUH DI KAMAR MANDI
Tanggal 5 Agustus yang lalu
kira-kira jam 11 pagi saya terjatuh di kamar mandi. Sebetulnya jatuh di kamar
mandi bukanlah suatu cerita yang menarik untuk dibaca. Tapi bagi saya peristiwa
ini menarik. Saya tidak tahu persis apa yang Tuhan ingin utarakan melalui peristiwa ini, tetapi saya
merasa ada yang ingin disampaikan-Nya. Mengapa?
Peristiwa ini aneh bagi saya,
karena waktu yang dibutuhkan sejak saat saya mulai merasa saya akan jatuh
sampai dengan saya “touch down” on the ground kog sepertinya lama sekali –
layaknya slow-motion dalam sebuah film. Dan inilah yang muncul di pikiran saya selama
melayang-layang sebelum mendarat: Pertama ketika saya sadar saya akan jatuh,
saya langsung berpikir: “Apakah saya terserang stroke?” Saat itu langsung
muncul di otak saya wajah Kak Jer (alm.). Akankah saya meninggal sama seperti
beliau? Apakah ini hari terakhir saya hidup? Saya sadar saya ada di dalam
bath-tub, dan jika terjatuh ke lantai, kepala saya dan isinya bisa tergoncang. Saya
mencoba untuk menggapai apa yang saya bisa gapai, tetapi semuanya licin. Tangan
saya penuh sabun dan dinding kamar mandi terbuat dari bahan dengan permukaan
yang licin. Pada waktu itu saya juga teringat Esther sedang bekerja, dan
anak-anak kami sedang nonton TV di living room. Saya sempat bertanya-tanya
dalam hati: apakah Keiko sudah pernah dilatih di sekolahnya untuk telefon 911?
Dan apakah dia bisa menemukan dan menggunakan telefon genggam saya? Dan bagaimana mereka tahu saya jatuh jika saya pingsan atau worse than that? Karena anak-anak kalau
sudah nonton TV lupa segalanya. Saya heran mengapa begitu banyak pikiran yang
sempat mampir ke otak saya.
Akhirnya saya mendarat juga.
Tirai bath-tub beserta tiang penyangganya lepas dari dinding menimpa saya.
Ajaibnya, saya terjatuh duduk di tepi bath-tub. Seharusnya tubuh saya terjatuh
ke lantai – namun ternyata posisi saya ada disamping toilet yang menahan saya
dari hal yang lebih buruk. Seperti efek jatuh pada umumnya, tubuh saya gemetar.
Meski tidak ada luka yang mengeluarkan darah, tangan saya lumayan sakit menahan
berat badan saya beradu dengan dinding bath-tub. Setelah sadar bahwa saya masih
sadar dan hidup, saya cepat-cepat lanjutkan mandinya dengan menyandarkan tubuh
saya pada dinding. Keluar dari kamar mandi, langsung sibuk menjadi bapak rumah tangga: taking care of the kids.
Malamnya ketika bekerja, sambil
mengemudikan mobil, saya bertanya kepada diri sendiri dan kepada Tuhan: “Apa
tujuan hidup saya?” Mungkin Anda tahu jawabnya???
Friday, 11 July 2014
BISUL DI PANTAT DAN BANGKU IKEA
Beberapa hari yang lalu saya bermain dengan
anak-anak saya di halaman belakang rumah. Ketika lelah saya lalu duduk
di bangku plastik buatan IKEA, tapi ada sesuatu yang membuat pantat saya
terasa sakit sekali. Saya berteriak: Aduhhhh! Saya katakan
pada istri saya, "Pasti ada yang salah dengan bangku ini." Mungkin ada
bagian yang rusak atau sobek dan menyakiti pantat saya. Namun ketika
saya periksa ternyata tidak ada yang salah dengan bangku tersebut. Kalau
begitu mungkin tadi ada batu atau benda keras di atas bangku tersebut.
Maka duduklah saya kembali, tetapi ... Aduh!!!! Sakit itu menyerang
pantat saya sekali lagi. Setelah diselidiki dengan seksama ternyata ada
bisul di pantat saya yang tidak saya sadari. Bangku itu tidak bersalah.
Ini kisah nyata: saya tuliskan karena terinspirasi oleh status saudara
saya Eko Kusumowijoyo di FB: "Kenapa yang jujur, selalu hanya aku dan kami. Kenapa yang curang, selalu dia dan mereka. Tanya kenapa."
Saya pernah mendengar: "Berbuat salah itu manusiawi; Berbuat salah tetapi tidak mau mengakuinya itu lebih manusiawi; Berbuat salah, tidak mengakui kesalahannya dan kemudian menyalahkan orang lain itu sangat-sangat manusiawi"
Saya pernah mendengar: "Berbuat salah itu manusiawi; Berbuat salah tetapi tidak mau mengakuinya itu lebih manusiawi; Berbuat salah, tidak mengakui kesalahannya dan kemudian menyalahkan orang lain itu sangat-sangat manusiawi"
Meskipun status FB Saudara Eko Kusumowijoyo mungkin saja erat kaitannya dengan masa hangat pemilihan presiden di Indonesia, his statement and my narrative are actually timeless truth.
Wednesday, 21 May 2014
RETHINKING ON WHAT PEOPLE SAY ABOUT POLITICAL PUPPET
Since few months ago, Mr. Joko Widodo, one of the candidates
for the next president of Indonesia has been accused to be merely a political ‘puppet’
of former Indonesian president and general chairman of Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP), Mrs. Megawati Soekarnoputri. This accusation has been launched
and popularized by his political oppositions. In political vocabulary, the word
‘puppet’ may not be too positive. That word tells us that such individual does
not have independence to make his own decision. Someone else, the more powerful
one plays him or her. This short reflective thought invites us to look at some
important lessons from the above incident.
First, a puppet is
dead. It normally represents a living being, animals or humans. Puppets are ‘alive’
only when people play them. Thus, in order for the puppet to perform well and
to bring positive impacts in his or her role, there are two basic requirements.
One, the people (person) who play
behind the puppet has to be a good puppet player. If the player plays the
puppet well, the audience who view the puppet show will be happy. Two, a particular puppet will be praised
if his or her role is positive and heroic. On the other hand, he or she will be
condemned if his or her role is evil and destructive. Though I never ever agree
with the thesis that Mr. Joko Widodo is Mrs’ Megawati Soekarnoputri’s puppet,
however even if that thesis is true – being Mrs Megawati Soekarnoputri’s puppet
is not necessarily a negative reality. If Mrs. Megawati Soekarnoputri is a good
puppet player and is able to find positive and constructive roles for Mr. Joko
Widodo, then this puppet show will be beautiful and beneficial for the whole
country – don’t you think? Being a puppet is not necessarily wrong. It is wrong
when a puppet is in the hand of an evil player; it is wrong if that puppet,
though in the hand of a gifted player, is given a destructive and evil roles.
Second, at some degree we are actually all puppet of someone else. We often mirror others. Our lifestyle is by no means original; we simply follow our ‘idols’ or predecessors (or ancestors). If we like our leader (father, mother, teacher, pastor, etc.), we start to speak, to act and to think like the way she or he speaks, acts and thinks. Some other have been even easily trapped in a celebrity life-style simply because of the spirit: ‘I want to be like him or her’ or ‘I want to be his or her puppet’ so to speak.
Third, believe it
or not, we all like, not only to be a puppet of someone else, but also to have
puppets. A political puppet is created often to do things in favor of the real
player behind it. And to be honest, we all are happy when people do things in
favor of us voluntarily or involuntarily. My point is a simple question: Why does
it (if it is true that Mr. Joko Widodo is merely Mrs. Megawati Soekarnoputri’s
puppet) bother us? We blame other people based on their actions, but we ourselves
love to do those actions. Isn’t that hypocrisy?
Fourth, last and
the most important point: Mr. Joko Widodo has not actually been the victim of
being Mrs. Megawati Soekarnoputri’s puppet. Mr. Joko Widodo has actually been
the victim of being his own fans’ puppet. When his choice of vice president is
announced few days ago, some of Mr. Joko Widodo’s faithful fans suddenly were
not happy. Some of them expressed their unhappiness frontally in social media.
Interestingly enough, these people (previously biggest fans of Mr. Joko Widodo –
you can tell from their facebook’s timeline status) started to say that they
will not choose Mr. Joko Widodo for the president because of his choice of the
vice president. To me – I am so sorry – these people’s dream is to play Mr.
Joko Widodo to do things in favor of them. In other words, they want Mr. Joko
Widodo to be their political puppet. Or still in other word, these people want
to play what they accused Mrs. Megawati Soekarnoputri plays. Are we better off and
more experienced than Mrs. Megawati Soekarnoputri in providing leadership for a
big country with complex challenges such as Indonesia? Isn’t it also hypocrisy?
The purpose of this reflection is not to support or to justify the idea of
political puppet. Nor is it a campaign for Mr. Joko Widodo. The purpose of this article is to assist readers to pause for a
while and to do careful reflection on what he or she thinks about political
puppet, especially in relation with Mr. Joko Widodo as one candidate for the next
Indonesia’s president.
Monday, 19 May 2014
INDONESIA`S NEXT PRESIDENT AND GOD`S MIGHTY HANDS: A PRAYER INVITATION
I was invited to preach in a local Indonesian congregation in Vancouver at the end of April 2014. I love this church especially when it come to the area of worship and prayer. I mentioned to members of this church that every time I sing praise and worship in this church somehow my heart is so excited, my relationship with God is refreshed, and my spirit is uplifted. After I finished sharing the sermon, a young lady stood up, moved forward and led the congregation in intercessory prayers. She prayed for four items. First, she led the congregation to pray for me (as a guest speaker) and my family. Then she and the congregation continued to pray for their pastor and his family. Third, she prayed for Indonesia. Then finally, she prayed for Canada.
When she prayed for Indonesia, I felt something different. This young lady was crying and lamenting for the nation. I remember she spent time considerably crying out to God for leaders and future leaders of Indonesia. I assume she understood that Indonesians have been in the midst of general and presidential election these days. I was aware of the issue, and with her also cried out to God for his protection and blessing for this country.
Few days before the incident, I mentioned to a good friend of mine that I had been feeling strange lately, especially when I pray for Indonesia. My hands and my body often were trembling, and tears voluntarily dropped. My heart is far from peace.
Yet, as I prayed in that church, it seemed that God revealed to me some encouraging messages. First of all, not only me, but many people are crying out to God for Indonesia. In this church, the young lady is the example. I remember some twenty years ago facilitating hundreds of young students to repent and to pray for Indonesia. They prayed extraordinarily: crying, kneeling, fasting, worshiping God in an unexplainable way. I knew the Holy Spirit was there - it was not human made. We were all young and inexperience, but God moved among us. Second, who the next leader of the country is is not the most crucial issue. From which party she or he is is also less significant. Religion, gender, ethnic and academic backgrounds are again not the foremost concerns. The primary and ultimate question is Gods victorious and mighty hands. If God`s hand is with this person, then she or he will do God`s will for Indonesia - and that is more than enough.
One of the presidential candidates is told to be too young, `ndeso` and inexperience. Well, God`s hands are powerful enough to guide the inexperience young people to accomplish God`s will. At the same time, his rival is told to be actively involved in kidnapping and killing pro-democracy activists in the past. People however often forget that God`s hands are powerful enough to change people. Were we better than him when Jesus died for us?
(See: Rome 5.1-11). Thus it is less important to me who (name or party) will be the next leader of Indonesia. I believe in the mighty hands of God and trust my country into those powerful hands. God has elected his servant to lead the country, and God`s hand will be with his chosen one.
Tuesday, 26 March 2013
GRACE THAT IS AMAZING: A DIFFERENT LOOK AT THE PARABLE OF THE SOWER (MATTHEW 13.1-23)
PENGANTAR
Perumpamaan tentang Seorang Penabur adalah salah
satu perumpamaan mengenai Kerajaan Allah yang paling populer. Barangkali hampir
semua orang yang menyebut dirinya Kristen pernah setidaknya sekali mendengarkan
kotbah dari perumpamaan ini. Di dalam Injil Matius (demikian juga di dalam
Injil Markus dan Lukas), Tuhan Yesus tidak sekedar menyampaikan kisah seorang
penabur yang menaburkan benihnya ke empat jenis tanah yang berbeda, Ia bahkan
memberikan arti dibalik perumpamaan tersebut. Perumpamaan dan artinya adalah
sangat jelas terkupas di dalam kitab Injil. Tulisan ini menawarkan sudut
pandang yang berbeda, yang sering diabaikan dan terlupakan di dalam memahami
dan menelusuri perumpamaan ini.
PERSPEKTIF 1:
FOKUS KEPADA SIKAP HATI MANUSIA
Pada umumnya dan memang demikianlah adanya, penafsiran
terhadap perumpamaan ini dipusatkan kepada empat jenis hati manusia yang digambarkan
dengan berbagai jenia tanah. Sikap hati manusia tersebut dikaitkan dengan
bagaimana manusia memberikan respon terhadap firman Tuhan yang digambarkan dengan
benih yang ditaburkan. Tiga jenis tanah yang pertama memberikan respon yang
buruk, sedangkan jenis tanah yang terakhir memberikan respon yang baik.
Benih yang jatuh di pinggir jalan menggambarkan
orang yang mendengar firman Tuhan, namun tidak memahaminya. Barangkali ada dua
kemungkinan besar mengapa orang yang mendengar firman Tuhan tidak memahaminya.
Kemungkinan pertama adalah karena orang tersebut memang secara intelektual
tidak mampu. Kemungkinan kedua adalah karena memang orang tersebut tidak mau.
Dari narasi yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus, nampaknya kemungkinan kedualah
yang lebih benar. Orang-orang ini bertelinga namun tidak mendengar, bermata
namun tidak melihat, bahkan sekalipun mereka ‘melihat’ mereka tidak melihat dan
sekalipun mereka ‘mendengar’ mereka tidak mendengar (Mat 13.14-15 mengutip Yes
6.9-10). Kutipan dari Perjanjian Lama ini menggambarkan kefasikan manusia yang
tidak lagi mau mendengar suara Tuhan melalui nabi-nabi yang diutus-Nya. Mereka
merasa benar sendiri (self righteous)
dan sombong (arrogant), akibatnya
mereka tidak lagi mampu menerima kebenaran firman Tuhan. Karena manusia tidak
mau menerima firman Tuhan, maka iblis mengambil kesempatan untuk semakin
menjauhkan benih firman Tuhan tersebut.
Benih yang jatuh ke tanah berbatu menggambarkan
orang yang mendengar firman Tuhan dan menerimanya dengan gembira. Orang seperti
ini menerima firman Tuhan dengan penuh semangat. Namun kegembiraan mereka
hanyalah sesaat dan sebatas pada emosi saja. Orang yang seperti ini malas untuk
dengan sungguh-sungguh menggali dan menerapkan firman yang didengarnya. Firman
Tuhan hanya untuk menghibur (to entertain)
telinga dan emosinya saja. Firman Tuhan tidak mengakar, karenanya ketika badai
hidup dan tekanan melanda, matilah firman Tuhan yang sempat tumbuh sekejap saja
lamanya.
Benih yang jatuh ke tanah penuh dengan semak duri
menggambarkan orang yang mendengar firman Tuhan, namun kekuatiran duniawi dan keinginan
akan hal-hal yang bersifat material telang menghalangi firman yang ditaburkan
itu bertumbuh dan berbuah. Pada akhirnya benih tersebut juga mati hilang tak
berbekas. Berbeda dengan tanah berbatu yang menggambarkan hidup manusia yang
dilanda badai dan tekanan hidup (aspek eksternal), maka tanah bersemak duri menggambarkan
kekuatiran dan keinginan yang diciptakan oleh dirinya sendiri (aspek internal).
Benih yang jatuh ke tanah yang subur adalah firman
Tuhan yang didengarkan, dimengerti dan pada akhirnya berbuah berlipat-lipat.
Tanah yang subur adalah hati manusia yang rendah hati, yang bersedia untuk
mendengar firman kebenaran, memahaminya, dituntun olehnya, dan pada akhirnya
hidup di dalam ketaatan akan firman-Nya.
Penafsiran di atas terbukti sangat bermanfaat bagi
jemaat di gereja untuk memiliki sikap hati yang benar terhadap firman Tuhan. Jemaat
diingatkan bahwa meskipun firman Tuhan itu penuh kebenaran dan penuh kuasa,
namun ternyata – seolah-olah – hati kita jauh lebih berkuasa. Sikap hati manusia
yang sering merasa benar sendiri, yang mendengar firman Tuhan untuk sekedar
memenuhi kebutuhan emosi dan yang dipenuhi oleh kekuatiran harta duniawi bahkan
dapat membunuh firman Tuhan yang ditaburkan. Dengan kata lain, kita diingatkan
betapa dahsyatnya dan berbahayanya hati seorang manusia. Ia sanggup membunuh
firman Tuhan yang tajam bagaikan pedang bermata dua. Iblis adalah musuh yang
menjauhkan firman dari hidup manusia, namun iblis tidak bekerja jika manusia
tidak membuka peluang atau celah baginya. Musuh utama manusia berkaitan dengan
firman Tuhan adalah menganggap dirinya sebagai yang paling benar,
kesombongannya, kemalasannya, kekuatiran hidupnya dan keinginan duniawinya.
PERSPEKTIF
2: FOKUS KEPADA HASIL YANG MELIMPAH
Sikap hati yang digambarkan dengan tanah yang subur
menjanjikan hasil berlipat-lipat. Jarang sekali saya mendengar seorang
pengkotbah memberikan perhatian yang serius untuk mengungkap apa yang
dimaksudkan Tuhan Yesus dengan buah yang berlipat-lipat ini. Untuk sebagian
orang Kristen yang sangat antusias terhadap teologia kemakmuran, hasil yang
berlipat-lipat dimengerti sebagai hidup yang penuh keberhasilan. Kampanye dari
teologia kemakmuran adalah: ‘Jika hidupmu lekat dan taat kepada firman Tuhan,
engkau akan diberkati luar dalam.’ Bagi para misionaris yang sangat bersemangat
di dalam pekerjaan Injil, buah berlipat ganda menggambarkan penuaian jiwa. Kata
mereka, ‘Jika hidupmu lekat dan taat kepada firman Tuhan, orang-orang yang
melihat hidupmu akan datang kepada Tuhan dan gereja akan bertumbuh.’ Kita perlu
berhati-hati di dalam menafsirkan bagian ini. Secara sederhana benih mangga
bertumbuh menjadi pohon mangga dan berbuah mangga. Lebih dari itu, benih mangga harum manis akan
bertumbuh menjadi pohon mangga harum manis dan berbuah mangga harum manis. Jika
benih yang ditaburkan adalah firman Tuhan, dan benih tersebut ditaburkan di
dalam hati manusia, maka ia akan bertumbuh menjadi pohon yang disebut firman
Tuhan. Semakin hari ia akan semakin besar dan berbuah dengan berlipat-lipat.
Buah yang berlipat-lipat jika demikian menunjuk kepada potensi maksimum dari
sebuah kehidupan yang dipimpin oleh firman Tuhan.
Benih yang kecil akan bertumbuh dan menjadi besar.
Firman yang tadinya seperti benih yang kecil akan semakin hari semakin besar
dan menjadi penuntun kehidupan. Jika tiga jenis tanah yang pertama
menggambarkan betapa besarnya kuasa hati manusia yang bahkan sanggup membunuh
firman Tuhan, maka tanah yang subur mengijinkan dan memberikan kesempatan benih
yang kecil itu bertumbuh menjadi besar dan menguasai hati manusia, bahkan pada
akhirnya menghasilkan buah yang banyak. Tanah yang subur menggambarkan sikap hati
yang membiarkan firman Tuhan menjadi semakin besar dan berpengaruh di dalam
kehidupan manusia. Buah yang melimpah jika demikian tidak lain dan tidak bukan mencerminkan
kehidupan yang sesuai dengan yang dijanjikan di dalam firman Tuhan.
PERSPEKTIF
3: FOKUS KEPADA PELAYANAN PENABUR
Ketika saya menyelesaikan pendidikan sarjana di
Institut Pertanian Bogor, beberapa mahasiswa Kristen mengatakan pada saya bahwa
beberapa perumpamaan Tuhan Yesus tidak masuk akal. Salah satu perumpamaan yang
tidak masuk akal adalah perumpamaan tentang seorang penabur. Kata mereka: Orang
yang menabur dan mengharapkan buah adalah petani. Jika penabur di dalam
perumpamaan ini adalah benar-benar seorang petani, maka apa yang dilakukannya
adalah bodoh. Di dalam masa pendidikan pertanian di Bogor, mahasiswa diajarkan
bagaimana menanam benih supaya tumbuh sehat dan berbuah lebat. Masa persiapan
adalah penting, diantaranya: (1) tanah harus dibersihkan dari tanaman liar dan
semak duri; (2) batu-batu dan kerikil harus dibuang; (3) tanah harus
digemburkan; (4) tanah harus dipupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman; (4)
obat-obatan anti rayap , ulat dan semut harus disiapkan; (5) jarak tanam harus
diatur dan lubang untuk benih perlu dibuat. Setelah semuanya selesai, barulah
benih itu ditaruh di dalam lubang yang telah dibuat dan ditutup dengan tanah.
Itupun belum selesai, masa pemeliharaan akan berlangsung terus selama tanaman
tersebut aktif berproduksi.
Secara ilmu pertanian apa yang dilakukan oleh
penabur di dalam perumpamaan ini memang tidak wajar. Ia petani yang ceroboh.
Mengapa benih yang baik dibuang-buang dipinggir jalan? Apakah Ia lupa
membersihkan semak belukar di lahan pertaniannya? Apakah ia juga lupa
membersihkan lahan tersebut dari batu-batu dan kerikil? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan
seperti ini? Pembaca harus mengingat bahwa ketika Tuhan Yesus mengajarkan
sebuah perumpamaan, Ia ingin menyampaikan sebuah realita di balik perumpamaan
tersebut. Tuhan Yesus tidak sedang mengajarkan teknik bercocok tanam yang baik
dan benar. Ada suatu realita yang disembunyikan dibalik setiap perumpamaan yang
diajarkan Tuhan Yesus.
Perhatikan realita yang disembunyikan tersebut –
yang sering dilupakan mereka yang berkotbah dari perumpamaan ini. Pertama, siapakah penabur yang
menaburkan benih firman Tuhan tersebut? Kitab Injil tidak secara
terang-terangan menyebutkan bahwa penabur itu adalah Tuhan. Yang jelas, penabur
tersebut adalah sumber dimana firman Tuhan itu tersedia. Ia bisa saja Tuhan.
Namun ia bisa juga adalah gereja atau umat percaya pada umumnya. Di dalam
bahasa sehari-hari, penabur tersebut adalah pemberita firman Tuhan. Ia bisa
Tuhan sendiri, nabi-Nya, hamba-Nya, pendeta, orang Kristen yang menyaksikan
firman Tuhan baik di dalam kelompok besar maupun kecil.
Kedua,
apakah benih tersebut? Pertanyaan ini sudah dijawab di atas. Benih yang ditabur
adalah firman Tuhan. Benih tersebut berhubungan dengan kebenaran Tuhan atau
sesuatu yang terkait dengan Injil Kerajaan Allah. Apakah firman Tuhan yang
ditaburkan tersebut akan menyenangkan telinga orang banyak? Nampaknya tidak.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa banyak orang yang bertelinga tidak mau
mendengarnya. Banyak orang yang bermata tidak mau melihatnya (Mat 13.14-15).
Intinya benih firman Tuhan yang baik dan benar tadi dianggap tidak penting dan
disepelekan oleh orang banyak. Perhatikan, di dalam sejarah Alkitab dan Gereja,
banyak nabi dan hamba Tuhan harus menderita dan mati karena memberitakan
kebenaran. Mereka ditolak oleh orang-orang yang seharusnya membutuhkan pesan
kebenaran tersebut. Puncaknya adalah kematian Tuhan Yesus di kayu salib yang
kita peringati sepanjang minggu ini. Tuhan Yesus yang adalah firman sejati yang
penuh kebenaran itu ternyata ditolak oleh kebanyakan orang.
Dengan permainan matematika sederhana, setidaknya
jika masing-masing jenis tanah memiliki populasi yang sama: 25% untuk tanah di
pinggir jalan; 25% tanah berbatu; 25% tanah bersemak duri; 25% tanah yang subur
– maka 75% pendengar firman Tuhan memiliki potensi untuk menolak firman Tuhan. Pada
kenyataannya mungkin lebih dari pada itu. Dengan kata lain, pelayanan atau
pekerjaan menaburkan firman Tuhan itu seperti pekerjaan yang memiliki potensi
keberhasilan hanya 25% saja atau kurang dari itu. Pekerjaan dan pelayanan
firman Tuhan karenanya bukanlah pekerjaan yang menjanjikan keberuntungan secara
ilmu matematika dan statistika.
Seperti yang telah dituliskan di atas, perumpamaan
merupakan suatu cerita yang mewakili sebuah realita. Meskipun apa yang
dilakukan si penabur tidak masuk akal bagi seorang ahli ilmu pertanian, namun
apa yang dilakukannya di dalam perumpamaan ini mewakili sebuah realita di dalam
ekonomi Kerajaan Allah. Di dalam pandangan Tuhan Yesus dan yang nyata dari
sejarah Perjanjian Lama, kebenaran harus diberitakan kepada semua orang. Firman
Tuhan seharusnya tidak hanya diberitakan kepada orang-orang yang memiliki hati
seperti tanah yang subur saja. Firman Tuhan juga harus diberitakan kepada
manusia yang memiliki hati seperti tanah di pinggir jalan, tanah berbatu dan
tanah bersemak duri. Mengapa demikian? Inilah alasannya:
1. Kita menabur benih – kita tidak menilai orang
lain. Sebagai pemberita firman kebenaran, kita tidak pernah tahu siapa yang
memiliki hati seperti tanah yang subur atau tanah yang buruk. Kita mungkin
berpikir untuk apa memberitakan firman Tuhan kepada orang-orang yang nampaknya
akan menolak. Bukankah kegiatan semacam itu hanya membuang-buang tenaga dan
waktu saja? Jika kita memilah-milah pendengar firman Tuhan yang kita taburkan,
kita telah menghakimi orang lain tanpa bukti-bukti yang sah. Di dalam
memberitakan firman Tuhan, azas praduga tak bersalah harus diterapkan.
2. Kita menabur benih – kita tidak menentukan waktu
menuai. Selain itu kita sering mendengarkan kesaksian orang bertobat dan
percaya kepada Tuhan Yesus karena mendengarkan kotbah yang menyentuh hati.
Orang lain bertobat karena Tuhan menyembuhkan penyakitnya. Yang lain lagi
bertobat karena lolos dari jerat hutang. Jarang kita mendengar kesaksian
seseorang menjadi percaya kepada Tuhan karena tujuh belas kali mendengar firman
Tuhan atau setelah lima puluh delapan kali hadir di dalam ibadah di gereja atau
setelah selama sepuluh tahun rutin membaca Alkitab. Intinya firman yang ditabur
hari ini bisa saja ditolak, tapi siapa tahu minggu depan diterima. Tahun ini
ditolak, siapa tahu enam tahun lagi diterima. Hari ini sikap hati masih seperti
tanah berbatu, siapa tahu seminggu sebelum wafat menjadi tanah yang subur?
Tugas gereja dan umat-Nya adalah menabur. Waktu menuai hanya Tuhan yang tahu.
Dunia yang gelap ini sesungguhnya membutuhkan dan menantikan penabur firman
kebenaran.
3. Kita menabur benih – kita tidak mengejar
keuntungan. Perumpamaan ini mengingatkan kita, walaupun persentase kesuksesan
mungkin hanya 25%, firman Tuhan tetap harus disaksikan kepada semua orang.
Memberitakan firman Tuhan tidak sama dengan berdagang barang kelontong. Seorang
pedagang menjual barang di tempat-tempat yang menguntungkan. Pemberita firman
Tuhan seharusnya menyaksikan firman kebenaran bahkan di tempat-tempat dimana
orang tidak rela untuk menyentuhnya. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya
mulai belajar mengenai ilmu kepemimpinan, saya dilatih untuk menerapkan prinsip
80-20. Prinsip tersebut mengajarkan saya untuk memberikan 80% dari waktu saya
untuk 20% orang yang paling berpotensi yang berada di dalam kepemimpinan saya.
Sisa waktu yang 20% diberikan bagi 80% orang yang kurang berpotensi di dalam
kepemimpinan saya. Prinsip 80-20 tidaklah selalu salah di dalam sebuah proses
pengembangan kepemimpinan, namun di dalam urusan menabur firman Tuhan, prinsip
ini tidak berlaku. Ekonomi kerajaan Allah di dalam menyaksikan kebenaran Tuhan
nampaknya tidak sama dengan ekonomi pengembangan kepemimpinan pada umumnya.
Realita kerajaan Allah yang ingin digambarkan oleh perumpamaan ini adalah
kenyataan bahwa firman Tuhan telah dan akan ditaburkan di tempat-tempat yang
tidak menguntungkan secara ilmu ekonomi. Firman Tuhan harus disaksikan bahkan
kepada mereka yang kemungkinan besar akan menolaknya. Firman Tuhan harus
disaksikan kepada orang-orang yang jahat sekalipun, yang nampaknya tidak akan
pernah akan bersedia untuk mendengar dan mentaatinya. Penabur di dalam
perumpamaan ini menggambarkan seseorang yang melayani Tuhan dengan tidak
memperhitungkan untung rugi seperti pelaku bisnis pada umumnya.
4. Kita dipanggil menjadi terang bagi dunia ini –
kita tidak dipanggil menjadi terang di dalam tembok gereja. Tuhan mengasihi
dunia yang diciptakan-Nya. Tuhan Yesus mati bagi dunia ini supaya barangsiapa
yang percaya kepada-Nya tidak binasa. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi bagi
dunia ini. Kita tidak dipanggil untuk melayani orang-orang yang baik saja.
Setiap individu yang hidup di dunia ini perlu mendapat kesempatan untuk
mendengarkan firman Tuhan supaya mereka dapat memutuskan untuk mempercayainya
atau menolaknya. Karenanya, memberitakan firman Tuhan kepada manusia yang
hatinya seperti tanah yang di pinggir jalan, tanah berbatu dan tanah bersemak
duri adalah sebuah pelayanan yang menyatakan ungkapan kasih Tuhan yang paling
dalam bagi dunia yang dikasihi-Nya. Perumpamaan ini lebih dari sekedar
menggambarkan sebuah realita yang sudah dan akan terjadi – Perumpamaan ini
melukiskan sebuah mandat ilahi pemberitaan firman kebenaran.
Gereja perlu merenungkan kembali apa
yang menjadi misi utamanya. Apakah kita sedang membangun gereja yang lebih
baik? Ataukah kita sedang membangun dunia yang lebih baik? Saya tidak ingin
membangun tembok pemisah yang ekstrim di antara keduanya. Namun demikian, jika
firman Tuhan diberitakan hanya kepada orang-orang yang hatinya seperti tanah
yang subur saja, maka firman Tuhan tidak akan pernah keluar dari gedung gereja.
Orientasi misi gereja akan terpusat ke dalam (internal). Sesungguhnya gereja tidak memiliki misi yang berdiri
sendiri. Hanya Tuhanlah yang memiliki misi akan dunia yang diciptakan-Nya (Missio Dei). Misi Gereja yang benar dan
satu-satunya adalah turut berpartisipasi di dalam misi Tuhan tersebut. Tuhan
memiliki misi, gereja adalah pelaku misi tersebut. Perumpamaan Penabur mengajar
dan mengajak kita untuk menjadi gereja yang menaburkan firman bukan saja di
dalam tembok gereja, namun ke tempat-tempat sulit dan penuh dengan penolakan.
Jika umat percaya membutuhkan firman Tuhan, apalagi dunia yang masih gelap ini?
Jika benih firman perlu ditabur di dalam gereja, betapa lebih perlunya benih
firman ditabur di luar gereja?
PENUTUP:
KEAJAIBAN ANUGERAH
Di dalam pemahaman itulah kita memahami keajaiban
anugerah Tuhan. Ia datang ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan dunia yang
dikasihi-Nya – namun dunia justru menolak-Nya. Ia tidak memilih tempat yang
baik dan menguntungkan, namun bergaul bersama pemungut cukai, perempuan
berdosa, orang miskin, cacat dan tertolak. Ia meninggalkan kenyaman surgawi, lahir
di dunia yang mengabaikan, menyepelekan, menolak dan menyalibkan-Nya. Namun
demikian Ia setia mati di kayu salib supaya barangsiapa yang percaya di dalam
nama-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Kematian Tuhan Yesus
di salib Golgota adalah puncak penolakan terhadap benih firman kebenaran yang
ditaburkan. Karena Tuhan Yesus sejatinya adalah firman yang menjadi manusia.
Kematiaan-Nya adalah keajaiban anugerah bagi dunia yang diciptakan dan
dikasihi-Nya.
Selamat Paskah. Hari ini kita merayakan kebangkitan
firman Tuhan yang telah menjadi manusia, yang ditaburkan di dunia gelap kelam,
yang ditolak, dihina, disepelekan dan akhirnya mati disalibkan. Firman itu telah bangkit dan menang! Kiranya
kebangkitan-Nya menjadi api semangat yang mendorong gereja-Nya di dalam
memberitakan terang kebenaran kepada dunia yang gelap ini – seperti yang telah
dicontohkan oleh sang Penabur.
Subscribe to:
Posts (Atom)










